Sisa hantaman lindu masih terlihat di Pangalengan, Jawa Barat, pada akhir September. Bangunan dengan atap koyak, bahkan ambruk tak bersisa ke tanah. Tak ayal, penduduk terpaksa berlindung di dalam tenda-tenda pengungsian.
Sekitar tiga puluh orang jemaat Gereja Generasi Apostolik, Jakarta, tiba di sana saat sengat matahari hampir mencapai titik puncaknya. Beberapa mobil beriringan membawa sejumlah bantuan seperti paket yang berisi bahan-bahan pokok (sembako). Ada empat lokasi gempa yang dikunjungi hari itu. Lokasi pertama adalah desa Kebon Kacang, lokasi dengan dampak gempa yang terparah. Pasalnya, hampir seluruh desa itu rata dengan tanah. Tiba di sana, bantuan dibagikan. Mereka juga meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan penduduk korban gempa dengan bermain bersama anak-anak setempat. Ini dilakukan untuk menghibur mereka di tengah situasi tertekan.
Desa kedua, Cibuluh. Serangan lindu memang tak seganas di Kebon Kacang. Namun, lokasinya yang jauh membuatnya nyaris dilupakan. Penduduk setempat tak mendapat bantuan karena akses menuju lokasi sulit ditempuh. Perjalanan dilanjutkan ke Kampung Padahurip. Sedikitnya sepuluh rumah hancur di wilayah ini. Berakhir di Desa Margaluyu. Di sini, sekolah dan sekitar lima puluh rumah hancur. Penduduk masih tidur di tenda.
Kunjungan ke Tasikmalaya, selang beberapa waktu, tak jauh berbeda. Saat rombongan terdiri dari tiga puluh orang tiba di sana, dampak gempa tak separah Pengalengan. Jemaat GGA yang berangkat ke lokasi itu membawa makanan seperti beras dan makanan kaleng, serta mainan anak-anak.
Photos of Pengalengan Relieve Efforts
Click on the thumbnails to view.

















.jpg)


