Posted on Sun, 02 May 2010
Bahasa Indonesia

Dari Manakah Akan Datang Pertolonganku?

Where shall my help come from?

Dari Manakah Akan Datang Pertolonganku?

Bencana dan krisis silih berganti datang dan mengejutkan kita, baik dalam kehidupan pribadi maupun bangsa kita Indonesia. Belum sembuh penderitaan akibat gempa di Tasikmalaya, tiba-tiba kita semua kembali terkejut dan bersedih atas penderitaan saudara-saudari kita di Padang dan sekitarnya di Sumatera Barat.

Kita tidak bisa memungkiri fakta akan bencana dan krisis yang terjadi di mana-mana. Akan tetapi, adakah sesuatu yang lebih nyata daripada yang dilihat oleh mata natural kita? Di mana-mana orang bertanya, dari manakah akan datang pertolonganku? Kepada siapakah kita harus berpaling di tengah keadaan yang porak poranda? Di tengah situasi ekonomi perbankan yang tidak menentu, di tengah kondisi keluarga yang kacau, di tengah kondisi rohani kita yang lesu? Semua orang mencari jawaban, sama seperti raja Daud..  

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.
- Mazmur 121:1-8

John Hamilton berkata: “Man’s extremities is God’s opportunities” artinya “titik ekstrim manusia adalah peluang bagi Tuhan”, yaitu peluang untuk menyatakan kebesaran dan kebaikan dan pertolongan-Nya.

Pada saat manusia telah mencapai titik ekstrim terendah, manusia telah melakukan segala upaya untuk memperbaiki situasi namun tampaknya tidak ada perubahan, maka ini adalah peluang bagi Tuhan untuk bekerja. Sebagai anak Tuhan, kita dipanggil untuk hidup berjalan dengan iman. Prinsip ini kita temukan di Mazmur 121, yaitu hukum visi (the law of vision).  

Visi Anda memberi dampak pada pikiran Anda

Iman kita menentukan cara pandang kita terhadap provisi Tuhan. Ketika perspektif kita akan Tuhan benar, kita dapat bergerak pindah dari kebingungan dan keragu-raguan menuju ketenangan, kepuasan dan damai sejahtera.

Ketika Daud memandang gunung-gunung, dia tidak sekedar melihat yang tampak dengan mata kasat yaitu dataran tinggi, pohon, tanah dan batu. Daud memperoleh pewahyuan akan suatu visi. Bagi Daud, gunung-gunung melambangkan karakter Tuhan yang setia dan senantiasa hadir bersamanya. Gunung-gunung juga memperbaharui visi Daud akan kebesaran kuasa Tuhan; bahwa Tuhan tidak dapat digoncangkan oleh situasi dan kondisi apapun. Gunung Sion mewakili hadirat Tuhan di mana Tuhan berdiam. Seperti gunung-gunung mengelilingi Yerusalem, demikian pula Tuhan mengelilingi umat-Nya (Mazmur 125:1-2).

Abraham tidak melihat kenyataan di depan mata, melainkan melihat kepada Tuhan sebagai Jehovah Jireh.

Abraham mentaati Tuhan untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran bagi-Nya karena Abraham menaruh kepercayaan dan imannya di dalam penyediaan Tuhan. Abraham tidak melihat kenyataan di depan mata, melainkan melihat kepada Tuhan sebagai Jehovah Jireh. “…Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku” – Kejadian 22:8.

Dalam peperangan melawan Aram, pelayan Elisa panik melihat pasukan tentara yang mengepung mereka. Tetapi Elisa tidak takut, dia berdoa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa (2 Raja-Raja 6:15-17).

Sight is where you are, but faith is where God wants to take you.

Yang tampak di depan mata Anda adalah tempat di mana Anda berada saat ini, tetapi iman adalah ke mana Tuhan akan membawa Anda. Anda mungkin melihat masalah dan keterbatasan, tetapi iman membuat Anda menyadari akan penyediaan dan kekuatan kuasa-Nya.

Untuk itu sangat penting bagi kita untuk sadar akan strategi dan tipu daya setan. Setan tidak akan secara langsung membujuk kita untuk menyembahnya. Dia akan menggunakan cara-cara halus untuk mengalihkan kepercayaan dan ketergantungan kita dari Tuhan kepada sumber dan benda-benda lain seperti tabungan, investasi, pemerintah, karir dll.

Daud tidak menaruh kepercayaannya dalam hal-hal jasmaniah tetapi di dalam hal-hal rohaniah, yaitu di dalam Tuhan yang maha besar dan maha kuasa. Walaupun Goliat secara jasmaniah adalah raksasa, Daud tidak menciut oleh kenyataan ini. Ketika maju melawan Goliat, senjata Daud hanyalah lima batu kecil dan umban dan kepercayaannya akan Tuhan yang perkasa.

... Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kutantang itu.”.
- 1 Samuel 17:45
bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan Ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.
- 1 Samuel 17:47

Takutlah pada ketakutan itu sendiri

Yang kita harus takuti hanyalah ketakutan itu sendiri. Saat Anda merasa beban Anda terlampau berat, saat Anda merasa ingin menyerah, angkatlah tangan Anda, puji dan sembahlah Tuhan karena siapa Dia. Kemudian, deklarasikan perlindungan dan penyediaan Tuhan atas Anda. Iman dan damai sejahtera Anda tidak tergantung pada situasi dan kondisi alamiah, tetapi pada kepercayaan Anda di dalam janji-janji dan provisi-Nya.  

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang menepati janji. Dia sumber kekuatan dan pertolongan kita. Tuhan akan berperang untuk kita. Segala sesuatu yang dicuri Iblis dari kita, akan dikembalikan Tuhan kepada kita dengan berlipat ganda. Kita pasti akan menghadapi masalah, tantangan dan peperangan. Itulah kehidupan. Selama kita di bumi kita akan terus menerus diserang dari berbagai sisi oleh Iblis, tetapi kita harus tahu kepada siapa kita percaya dan bergantung. Kita dapat sepenuhnya yakin bahwa Tuhan sanggup menjaga dan memelihara kita dalam setiap aspek kehidupan yang kita komitmenkan kepada-Nya.

Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita.
- Mazmur 20:8

Disasters and crisis come one after the other, shocking us, in our personal lives and also us as the nation of Indonesia. Not yet fully recovered from the earthquake in Tasikmalaya, suddenly we are shocked once more by and grieve for our brethren’s suffering in Padang and the nearby areas in Sumatera Barat.

We cannot deny the fact of the disasters and crisis that are happening everywhere. However, is there something more real than what our natural eyes can see? Everywhere people ask, where will our help come from? To whom must we turn to in the midst of chaos? In the midst of the uncertain economy and banking system, the messy family situation, our sluggish spiritual condition? Everyone is looking for answers, just as King David..

John Hamilton says that ”Man’s extremities is God’s opportunities” which means that when man is pushed to the extreme point, that is an opportunity for God to manifest His greatness, His goodness and His help.

My help comes from Jehovah, who made Heaven and earth. He will not allow your foot to be moved; He who keeps you will not slumber. Behold, He who keeps Israel shall neither slumber nor sleep. Jehovah is your keeper; Jehovah is your shade on your right hand. The sun shall not strike you by day, nor the moon by night. Jehovah shall keep you from all evil; He shall keep your soul. Jehovah shall keep your going out and your coming in from this time forth, and even forevermore.
– Psalms 121:1-8

When man has reached the lowest extreme point, when man has done everything he can to fix the situation but there seems to be no change, then this is an opportunity for God to work. As God’s children, we are called to live walking by faith. We find this principle in Psalms 121, which is the law of vision.

Your vision affects how you think

Our faith determines how we view God’s provision. When our perspective of God is correct, we can shift from confusion and doubt to equanimity, contentment and peace.

When Daud looked towards the mountains, he did not only see what could be seen with the natural eye which was highland, trees, grounds and stones. David got a revelation of a vision. For David, mountains represented the character of God which is always faithful and everpresent with him. The mountains also renewed David’s vision of the greatness of God’s power; that God cannot be shaken by any kind of situation and condition. Mount Zion represents the presence of God where He dwells. As the mountains are all around Jerusalem, so God is all around His people (Proverbs 125:2).

Abraham obeyed God in sacrificing Isaac as a burnt offering unto Him because he put his trust and faith in God’s provision. Abraham did not look at the reality that was before him, he looked to God as Jehovah Jireh. “…My son, God will provide Himself a lamb for a burnt offering” – Genesis 22:8

In the battle against Aram, Elisha’s servant panicked upon seeing a whole army with horses and chariots surrounding them. But Elisha did not fear, he prayed: ”I pray You, Jehovah, open his eyes so that he may see.” And Jehovah opened the eyes of the young man, and he saw. And behold, the mountain was full of horses and chariots of fire round about Elisha. (2 Kings 6:15-17)

Sight is where you are, but faith is where God wants to take you.

What is obvious before your eyes is where you are at now, but faith is where God wants to bring you to. You may see problems and limitations, but faith makes you realise the provision and the power of God.

That is why it is very important for us to be aware of satan’s strategies and deception. Satan will not use direct means to persuade us to worship him. He will employ subtle means to turn our faith and dependence on God away to other sources and things, for example savings, investments, government, career, etc.

David did not put his trust in physical things but in spiritual things, that is in the most high and all-powerful God. Despite the fact that Goliath was physically an enormous giant, David was not deflated by this fact. When he stepped forward to fight Goliath, his weapon was only five small stones and a sling, and his trust in God who is almighty.

And David said to the Philistine, You come to me with a sword and with a spear and with a javelin. But I come to you in the name of Jehovah of Hosts, the God of the armies of Israel, whom you have defied.
– 1 Samuel 17:45
And all this multitude shall know that Jehovah does not save with sword and spear; for the battle is Jehovah's, and He will give you into our hands.
– 1 Samuel 17:47

Fear the fear itself

What we have to be afraid of is only the fear itself. When you feel your burden too heavy, when you feel like giving up, lift up your hands, praise and worship God because of who He is. Then, declare God’s protection and provision upon you. Your faith and peace do not depend on natural situations and conditions, but on your faith in His promises and provision.

The God whom we serve is a God who fulfills His promises. He is our source of strength and help. God will war for us. Everything that the devil steals from us will be returned to us multiplied. We will certainly face problems, challenges and battles. That’s life. As long as we are on earth we will be attacked continually from various sides by the devil, but we must know whom we must trust in and depend on. We can be fully sure that God is able to take care of us in every aspect of our lives that we commit to Him.

Some trust in chariots, and some in horses; but we will remember the name of Jehovah our God.
– Psalms 20:7

Do you like this post?

Announcement

Be Our Partners

Visi Allah membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Kami percaya, perjanjian kemitraan (covenant partnership) dengan suatu pelayanan akan menghasilkan kuasa yang luar biasa. Aktifkan hukum Kemitraan ini dalam hidup Anda segera! Berpartner dengan kami.

blog comments powered by Disqus