Posted on Mon, 05 Jul 2010
Bahasa Indonesia

Mesin Waktu

Time Machine

Mesin Waktu

Jika kamu menemukan mesin waktu, apa yang akan kamu lakukan? Dan, jika kamu punya kesempatan kembali ke masa lalu, ke masa mana kamu akan kembali?

Dukuh Atas, Jalan Sudirman, Jakarta. Pertengahan Mei 2010

Saya buru-buru melompat ke dalam taksi, “Proklamasi, pak. Lewat Manggarai,” kata saya.

Lalu saya menyenderkan punggung. Sejenak memejamkan mata mengingat hal-hal yang harus saya lakukan hari ini. Sampai suara “sember” sang sopir memecah keheningan.

“Di mana-mana jalan macet, Neng,” ucapnya. “Banyak demo.”

“Oh ya?” Alis saya berkerut. Berusaha keras mengingat ini hari apa. “Oh, sepuluh tahun lalu kan Soeharto lengser,” jawab saya ketika berhasil mengingat. “Ah, zaman sekarang ini memang nggak enak. Apa-apa susah. Cari makan susah. Cari pekerjaan susah. Lebih enak zaman Soeharto dulu, kan semuanya makmur,” katanya dengan nada dongkol.

Zaman sekarang ini memang nggak enak. Apa-apa susah. Cari makan susah. Cari pekerjaan susah. Lebih enak zaman dulu...

Dahi saya langsung berkerut. Pikiran saya menolak. Tapi saya memilih mendengarkan pendapatnya. “Coba, apa yang dihasilkan sekarang? Jalan tol, gedung-gedung, yang membangun kan Soeharto. Sekarang orang miskin tambah banyak, cari duit susah,” keluhnya bertubi-tubi.

Tanpa bermaksud membela pemerintah yang sekarang, muncul argumentasi di pikiran saya: tentu saja jumlah orang miskin bertambah, karena tiap tahun jumlah penduduk bertambah. Tapi percuma berdebat. Saya memilih diam, nanti kalau sudah capek bicara dia bakal diam. Mungkin dia lelah dengan beban ekonominya. Orang tipe begini hanya perlu didengarkan. Tidak perlu lagi diceramahi. Dia capek menanggung kehidupan. Tapi dia terus saja bicara dan mengagung-agungkan masa lalu.

“Pak,” akhirnya saya bicara, dengan nada lembut. “Tidak sepenuhnya zaman dulu itu enak. Sebenarnya, tiap zaman itu ada pahit manisnya juga. Sama saja seperti sekarang,” tutur saya.

Bukannya dia menjadi semakin tenang, kedongkolannya semakin memuncak. Dia semakin memuji-muji pemerintahan orde baru yang menurut dia sukses dengan kemakmurannya.

Kenapa sih, orang ini “ngebet” sekali ingin kembali ke masa lalu?

Siapa yang tidak pernah ingin kembali ke masa lalu? Masa-masa sulit, selalu membuat kita menoleh ke belakang, ke saat-saat yang nyaman.

Saya pun pernah mengalaminya. Saya pernah hidup tidak kekurangan. Tidak usah berpikir hari ini bakal makan apa, semua tersedia. Saya tinggal menadahkan tangan dan uang mengalir ke kocek saya. Mobil dan sopir tersedia. Mau makan dan minum tinggal panggil pembantu di rumah, dan mereka buru-buru menyediakannya di meja makan saya. Arloji merek terbaru. Mobil keluaran terbaru. Saat parabola masih menjadi barang mewah dan langka, di rumah saya payung besi raksasa terbalik itu sudah nongkrong. Semua orang di sekolah mengenal siapa saya dan keluarga saya.

Kesulitan yang datang bertubi-tubi memang bisa membuatmu mempertanyakan makna hidup dan di mana Tuhan

Kata pepatah, hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, dan satu waktu di bawah. Krisis ekonomi menghajar semuanya. Bahkan rumah pun saya tidak punya. Tinggal harus mengontrak dari satu rumah ke rumah lain. Impian untuk sekolah di luar negeri pupus sudah. Saat-saat itu, betapa saya mengutuki hidup.

Kesulitan yang datang bertubi-tubi memang bisa membuatmu mempertanyakan makna hidup dan di mana Tuhan. Saya mengerti rasanya. Betapa menyakitkan jika kamu pernah memiliki kenyamanan dan tiba-tiba semuanya hilang begitu saja. Saat itu, saya begitu ingin mengubah sejarah. Saya ingin kembali ke masa lalu.

Pertanyaan saya: “Tuhan, jika Kau memang ada, kenapa Kau biarkan aku menderita?” Tanpa saya sadar, hidup tengah memberikan bab pelajaran baru dalam perjalanan kehidupan saya. Saya belajar hidup sederhana. Saya belajar rendah hati. Saya belajar naik angkot. Saya bicara pada pedagang kaki lima dan pengemis. Saya mengenali siapa-siapa yang tetap bersama saya ketika kehidupan memasuki masa kegelapan. Saya menemukan teman-teman sejati saya, yaitu orang-orang yang menarik saya dari kegelapan dan membuat saya kembali mencintai kehidupan.

“Segala sesuatu yang kamu alami tak akan pernah melebihi kekuatanmu,” kata seorang teman di Jogja.

“Lalu kenapa Tuhan diam saja ketika saya menderita?” saya bertanya.

“Dia mengizinkan segala sesuatu terjadi untuk membentukmu menjadi sesuatu yang Dia siapkan. Suatu saat, kamu akan bertemu dengan orang-orang yang mengalami hal yang serupa. Dan kamu akan membagi pengalaman hidupmu pada mereka,” kata teman saya.

Milikilah harapan. Harapanlah yang membuat kamu hidup, bukan hidup itu sendiri. Saat kamu berjalan bersama Tuhan, kamu akan selalu menemukan harapan itu.

Teman saya benar. Saya bisa melaluinya. Hidup terus berjalan. Perubahan terjadi. Tantangan hidup selalu ada, tapi saya tahu di mana kekuatan sejati saya. Saya bisa memilih: hidup dengan hati yang ditawan masa lalu, atau bergerak menerobos masa depan dengan harapan. Pikiran adalah mesin waktu itu. Saya punya pilihan menekan tombol off yang menyeret saya ke masa lalu. Dan menekan tombol on untuk menjalani hidup sekarang.

Napas saya masih berhembus. Jantung saya masih berdetak. Sampai saat ini. Saya memutuskan untuk tidak kembali ke masa lalu. Sama sekali.

Written by: NI

I quickly jumped into a taxi, “Proklamasi, sir. Through Manggarai,” I said. Then I leaned back into my seat. Closing my eyes for a while, I reminded myself of all the things I had to do that day. Until the hoarse voice of the taxi-driver broke the silence.

“Traffic jams everywhere, Miss,” he said. “Lots of protests.”

“Oh, yeah?” I frowned. Trying hard to recall what day was that day. “Oh, ten years ago Soeharto was toppled down from his position as president.” I answered after succeeding to remember. “Everything’s difficult. To make a living these days are harder than it used to be. Finding job is not easy. Soeharto’s time was more prosperous than now….,” he grumbled in a cranky tone.

Everything’s difficult. To make a living these days are harder than it used to be. Finding job is not easy...

My forehead immediately creased into a frown. My mind refused, but I chose to listen to his views. “See, what is being produced now? The toll roads, buildings, everything were built by Soeharto. Now poor people is increasing…,” he complained insistently.

With no intention to defend the current government, my mind argued: of course the number of poor people is growing, because every year the number of the total population is also growing. But it was useless to debate with him. I chose to keep quiet, because later he would naturally stop talking when he got tired. Perhaps he was exhausted with his financial troubles. This kind of people only need to be listened to. They don’t need to be preached at. He is worn out going through life. Nevertheless, he continues to talk and glorify the past.

“Sir,” I finally said, gently. “The past is not all good. Actually, every period has its bitter and sweet moments. Just like the present,” I explained.

Instead of calming down, his vexation increases. He praised the Soeharto’s government even more, which according to him was successful in prospering the country and its people.

Anyway, why is someone so desperate to return to the past?

Who doesn’t ever wish to go back to the past? Difficult times always make us look back towards better times.

I too have experienced this. I once lived without any lack. I never had to think what I would eat that day, everything was provided. I only had to ask and money would came into my pocket. A car and a driver were always on standby. If I wanted to eat or drink I only had to summon the servants and they immediately served it on my dining table. My watches were of the newest brands. My cars were of the newest models. When parabolic antenna were still in the class of luxury and rare items, the gigantic, upside-down iron umbrella was already installed in my home.

The troubles that come one after the other can really make you question the meaning of life and where God is.

There’s a saying that life is like a turning wheel. At times, you are on top. And at other times you are at the bottom. The economic crisis took it all. I don’t even have a home now. I have to rent a place to live in, I move from one place to another. My dream to study abroad died down. At those times, how I cursed life.

I understand how that feels. How painful it is to own the comforts of life once, and suddenly lost all of them just like that. At that time, I really wished I could change history. I wanted to go back to the past.

“God, if You really exist, why do You let me suffer?” I questioned God. Without realizing it, life was actually teaching me a new chapter of the lessons I have to take in the course of my life’s journey. I learned to live a simple life. I learned to be humble. I learned to take public transportation. I talked to street hawkers and beggars. I came to know who remained with me when my life entered its dark phase. I found my true friends, those who pulled me from the darkness and made me love life again.

“Everything that comes your way will never go beyond your power to bear it,” a friend in Yogja says.

“Then why did God keep quiet when I suffered?” I ask.

“He allows things to happen in order to mold you into something He has in mind. One day, you will meet people who went through the same things you did. And you will share your life experiences with them,” my friend says.

Have hope. It is hope that enables you to live, not life itself. When you walk with God, you will always find hope.

My friend is right. I can go through it. Life continues on. Changes happen. Challenges in life will always be present, but I know where my true strength is. I can choose: live with my heart still attached to and imprisoned in the past, or move forward and break through to the future with hope. The mind is the time machine. I have the choice to press the off button that drags me to the past. And to press the on button to live my present life.

I am still breathing. My heart is still beating. Until this moment. I decide not to go back to the past. At all.

Do you like this story?

Announcement

Be Our Partners

Visi Allah membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Kami percaya, perjanjian kemitraan (covenant partnership) dengan suatu pelayanan akan menghasilkan kuasa yang luar biasa. Aktifkan hukum Kemitraan ini dalam hidup Anda segera! Berpartner dengan kami.

blog comments powered by Disqus