Posted on Wed, 06 Jan 2010
Bahasa Indonesia

Yesus, Hanya Sejarah?

Yesus, Hanya Sejarah?

"Mana mungkin Kau ada sebelum Abraham ada? Abraham itu leluhur kita dan Abraham sudah meninggal." Jawab orang-orang berdagu tinggi yang disebut farisi. Dengan kata lain mereka berkata, "Jangan ngaco, Yesus. Yang benar saja," sambil sedikit mengangkat sebelah lekukan bibir mereka mendengus, lalu memutar bola mata mereka.

sebelum Abraham ada, AKU TELAH ADA. - Yesus

before Abraham was, I AM. - Jesus
- John 8:56

Mari kita tinggalkan orang-orang berdagu tinggi itu sebentar, dan menelusuri lorong perkataan Yesus. Sebenarnya kalau dilihat dari dua terjemahan, makna dari kata I AM yang Yesus katakan lebih terasa jika dilihat dari terjemahan bahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, tata bahasa yang benar adalah "Before Abraham was, I was." Karena ada kontinuitas arti. Tetapi di kalimat yang Yesus katakan, Ia menggunakan kata I AM, yang adalah bentuk kalimat present (sekarang), bukan past (lampau).

Itu berarti, Yesus mencoba menekankan bahwa Ia adalah yang ada, yang telah ada, dan yang akan terus ada. Yang selama-lamanya tanpa dikurung batas waktu, ada, hidup.

Hari Natal yang dirayakan semua orang, dengan pohon cemara berbulu warna-warni, kado-kado kosong, dan pria gendut berjenggot putih telah seringkali membungkus arti Natal yang sebenarnya. Cerita-cerita mengenai Yesus yang lahir di palungan, disertai kartu Natal bergambar 3 orang majus, dan Yesus bermuka imut didampingi Maria dan Yusuf, telah seringkali mengecoh perhatian saya terhadap apa yang terjadi sesungguhnya. Kalau kita memperhatikan sejarah, kita akan tahu betapa kita terkecoh oleh gambar-gambar kartu Natal.

Dengan adanya semua pernak pernik natal, saya seringkali secara tidak sadar menganggap cerita Yesus di bumi hanya sekedar cerita sejarah. Saya tahu bahwa Yesus ada di bumi, lahir untuk misi penyelamatan manusia. Saya juga tahu Yesus melakukan banyak hal yang manusia belum pernah lakukan sebelumnya. Yesus telah membuat banyak dagu terangkat ke atas, contohnya para pemuka agama (orang-orang farisi) saat itu, sekaligus menjatuhkan banyak dagu para pengikut-Nya. Saya tahu itu. Tapi, seperti kebanyakan orang, saya hanya sekedar tahu.

Sekedar tahu bahwa Yesus penyembuh, tidak menyembuhkan hati saya. Sekedar tahu bahwa Yesus adalah pembuat mujizat, tidak membuat saya mengalami mujizat.

Sekedar tahu bahwa Yesus penyembuh, tidak menyembuhkan hati saya. Sekedar tahu bahwa Yesus adalah pembuat mujizat, tidak membuat saya mengalami mujizat.

Saya tahu bahwa Yesus ada, saya menghadiri banyak ibadah Natal besar yang megah, penyalaan lilin yang indah, puji-pujian dengan tarian lincah, tapi apa? Setelah itu tetap saja, Yesus hanya sebatas tokoh di dalam buku tebal bernama Alkitab, yang pernah lahir di bumi; bukan sebagai seorang Allah yang ada, dan lahir di hati saya.

Saya sama saja seperti orang-orang berdagu tinggi. Mendengus, memiringkan kepala sambil memutar bola mata. Ya, ya, saya tahu Yesus hidup. Ya, ya, saya tahu, Ia penyembuh. Kalau saya ada di jaman itu pun dagu saya akan terjatuh-jatuh dan jadi pengikut-Nya kemana pun Ia pergi. Tapi sekarang, saya melihat apa yang saya lihat, dan saya tidak lihat palungan itu. Saya tidak lihat jubah mahal-Nya yang diundi, saya tidak lihat tawa-Nya waktu bermain dengan anak-anak kecil yang Dia cintai. Saya tidak lihat Yesus.

Tapi Yesus berkata bahwa Ia ada. I AM. Itu berarti Ia memang ada. Dekat. Bukan jauh. Sekarang. Bukan hanya 2000 tahun lalu. Fakta masa kini, bukan sekedar sejarah. Sekarang tergantung bagaimana keputusan saya. Apakah akan tetap meninggikan dagu dan menjerengkan mata saya tanpa melihat mujizat, atau membuka mata, membuka tangan lebar-lebar, melapangkan hati untuk melihat Yesus yang ada sekarang?

Yesus, bukan sekedar sejarah.

Ia yang membuat mujizat 2000 tahun lalu adalah orang yang sama yang membuat mujizat bagi saya tahun ini. Ia yang memberi makan 5000 orang dalam sekali sajian adalah juga orang yang sama yang menyediakan segala keperluan saya (dan 5000++ orang lainnya).

Saya pemegang kunci hati, apakah akan membiarkan Yesus hidup sekarang, atau tetap menjadi sekedar bagian dari sejarah? Membiarkan mujizat itu ada di memori otak saja, atau menghadirkan mujizat itu sekarang?

Yesus, bukan sekedar sejarah.

“…before Abraham, I AM.”


written by: VP

Do you like this story?

Announcement

Be Our Partners

Visi Allah membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Kami percaya, perjanjian kemitraan (covenant partnership) dengan suatu pelayanan akan menghasilkan kuasa yang luar biasa. Aktifkan hukum Kemitraan ini dalam hidup Anda segera! Berpartner dengan kami.

blog comments powered by Disqus